..Working Visa..

anxiety-symptoms-cartoon

Speechless..kaki tangan dingin..bingung mau teriak atau nangis..kira2 begitulah ekspresi saya saat dapat email balasan dari immigrasi NZ soal aplikasi working visa saya.

Apa itu working visa? Working visa pada dasarnya adalah ijin tinggal dan bekerja di suatu negara. Saya datang ke NZ dengan student visa, karena tujuan awal saya adalah belajar, disambung dengan job search visa, dan sekarang saya harus punya work visa.

Hal penting yang harus diingat dalam memasukan aplikasi work visa antara lain :

  1. Working visa diberikan kepada mereka yang mendapatkan job offer dari perusahaan di NZ. Jadi syarat utamanya harus sudah punya kerjaan dulu.
  2. Rajin2 ngecek website immigrasi untuk melihat list skill yang dibutuhkan di NZ. List ini sering ganti2 tergantung kebutuhan pasar jadi harus sering update.
  3. Informasikan ke employer kita jauh2 hari bahwa kita akan butuh support mereka untuk sponsor di work visa. Karena sponsor dari mereka memberikan pengaruh yang besar kepada di approve atau tidaknya aplikasi kita. Dan tentunya membuat hidup kita lebih enteng.
  4. Persiapkan data dari jauh2 hari biar gak buru2. Karena data seperti police clearance harus dari negara kita.
  5. Work visa diberikan ke kita kalau kita bisa membuktikan bahwa orang Kiwi sini gak bisa ngerjain itu atau employer kita sudah pernah menginterview mereka tapi kita terbukti jauh lebih baik. Nah untuk ini harus dipersiapkan buktinya juga.

Jadi bagaimana proses saya mengaplikasi working visa kemarin? job search visa saya sebenarnya baru expire April 2017, tapi karena gak mau nantinya terburu2, saya udah siap2in document dll, ngobrol sama bos saya dari bulan Desember.

  1. Karena SKCK harus datang dari Kupang, yang satu ini agak ribet kemarin. Papa saya sampai harus terbang ke Kupang untuk bisa dapatin ini. Makasih pa, luph u muach xx
  2. Saya register untuk apply online. Awalnya saya coba manual, semua document sudah saya download dan saya isi,ternyata online lebih murah jadi saya berpindah hati ke online deh. Untuk aplikasi online, kita cuma perlu mendonwnload employer supplementary form ajah untuk diberikan ke employer. Selain dari itu, semua bisa diisi secara online. Saya coba isi sedikit demi sedikit dan saya save, jadi tiap ada waktu luang dari Desember saya luangkan untuk isi form online.
  3. Passport, KK (optional), KTP sebagai ID saya scan dan saya upload online.
  4. Be super demanding to your employer. Saya kejar managing director saya untuk isi form, buatin surat sponsorship, buatin job desc, bukti advertising dan bukti mereka pernah menginterview kiwi sebelum meng hire saya. Untungnya saya, job ini essential dengan Bahasa Indonesia, dan pekerjaan saya kebetulan masuk ke shortage skill list.
  5. Scan kontrak kerja kita. Ini penting banget jadi disimpan baik2 yah kontraknya.
  6. Jangan lupa upload juga semua ijazah. At least dari bachelor degree yag.Gak perlu keles yang SMA.
  7. Bukti pernah bekerja di tempat lain. jadi saya scan juga surat dari Petrosea dan Tank, jadi bahwa saya pernah bekerja di Indonesia dan NZ.
  8. Untuk MCU, kebetulan saya baru MCU tahun lalu buat Job Search Visa jadi gak butuh MCU lagi buat visa ini.
  9. kalo udah lengkap semuanya, klik submit dan….berdoa!
  10. Immigrasi akan memberikan info kalau ada data yang kurang dan deadline kita harus mengsubmitnya. Di kasus saya, saya tidak memasukan job description dan bukti advertising. Saya panik dong jam 11 malam saya sms direktur saya minta dia buatin haha.
  11. Berdoa..lagi..lagi..lagi..

Saya terus terang stress banget waktu nungguin kabarmya. Sampai hari itu saya lupa tanggal berapa, pas mau mandi eh ada email dari immigrasi. Kira2 2 minggu setelah saya submit dan 5 hari setelah saya upload additional documents.Gemetar saya bukanya. Gimana kalo ditolak? Masa saya pulang kampung sih? Eh pas saya buka katanya expire 2020. What? saya dapat 3 tahun working visa? Speechless, gemetaran saya..asli…

Buat kamu yang sedang dalam proses working visa, selama kamu punya semua dokumen lengkap, jangan khawatir. Selama kita bisa membuktikan kita worth it, dan employer kita mendukung, pasti dapat. Selamat berjuang!!

 

-Nona-

Marketing? siapa takut…

You can only grow if you’re willing to feel awkward and uncomfortable when you try something new – Brian Tracy

best-dress
if you cant be the best “yet” at work, at least win the best dressed in their party

Gak pernah sekalipun dalam benak saya bahwa suatu saat saya akan bergulat di marketing / sales dan harus bermanis-manis di telepon. Bermanis-manis, buat mereka yang kenal baik dengan saya tahu banget itu bukan “spesialisasi saya”. Plus, saya jarang memberikan kesan baik kepada para sales yang pernah saya temui. Di benak saya mereka cuma berakting super manis dengan senyum lebar untuk menjebak saya.

Sekitar 5 bulan setelah selesai study saya disini, setelah mengirimkan ratusan, yep ratusan CV, saya akhirnya dipanggil interview sama perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Tentulah saya yang sudah “bosan” dengan kerjaan saya di juice bar, menyambut undangan interview ini dengan senyum lebar. Judulnya “Lead Generator (Bahasa Speaker)”. Saya sama sekali gak ngerti apa kerjaannya, tapi saya jabanin ajah. Setelah presentasi, phone call interview beberapa kali, saya akhirnya dapat sedikit gambaran tentang pekerjaan ini. Asli, saya jelek banget pas phone test. Lah saya gak pernah punya pengalaman kerja ini. Saya pun hampir gak pernah bermanis-manis di telepon dengan siapapun. Kayaknya pesona luar biasa saya yang mebuat mereka gak sanggup menolah saya.Atau mungkin gak tega haha.

Jadi apa itu lead generator? Lead generator basically menanggapi demand market, atau bahkan mencari market, menqualify market tersebut untuk kemudian diberikan ke sales untuk diproses lebih lanjut. Yang bikin susah? Kerjaannya lewat telepon, jadi tugas saya menelpon para marketing manager atau IT manager atau posisi lain di atas itu untuk berdiskusi, memahami rencana, prioritas dan tantangan mereka untuk melihat apakah produk saya cocok atau gak dengan perusahaan mereka. Susahnya lagi? Karena market saya di SEA, jam kerja saya ikut jam kerja di Indonesia. Berarti jam 1 siang sampai jam 930 malam waktu NZ. Susahnya lagi? Karena saya gak ada background IT ataupun sales, saya harus bekerja lebih keras waktu training.

Ngomongin susah terus. Mari kita ngomongin enaknya. Enaknya? pastinya lebih enak dari kerja di jus bar. Enaknya lagi? Kerjanya Senin sampai Jumat, jadi bisa tidur pas weekend. Enaknya lagi? Bisa pake baju cantik. Enaknya lagi?Belajar hal baru yang gak pernah saya peduliin sebelumnya. Enaknya lagi? disponsorin working visanya. Buat yang satu ini saya khususkan di artikel setelah ini, sekalian buat bantu teman2 yang sedang dalam proses working visa.

Terus gimana performance saya? Awalnya hancur. stress. Kadang saya berharap gak ada yang jawab telpon saya. Saya ingat banget orang pertama yang ngangkat telpon saya itu VP nya UOB Singapore. Dia baru nanya “how can i help” saya udah grogi setengah mampus terus saya bilang “let me just send you an email” terus saya tutup telponnya grogi haha. Lead pertama saya dapat dari seorang IT Manager di Singapore dimana di sela-sela percakapan itu saya minta dia buat nyanyi haha. Sekarang sih udah gak grogi lagi, tapi masih belum sempurna secara dalam kehidupan nyata pun saya bukan komunikator yang bagus. At least i tried.

Jadi kesimpulan dari cerita panjang ini sebenarnya adalah jangan takut untuk memulai dari bawah. Jangan pernah takut memulai sesuatu yang baru hanya karena kita belum pernah mencoba. Lebih baik gagal dari pada takut mencoba. Hidup itu dinamis, kita pun harus dinamis atau kita akan tertinggal.

-Nona-